Wiljan Pluim Terus Bersinar Bersama PSM

Wiljan Pluim Terus Bersinar Bersama PSM
Sosok Wiljan Pluim kini menjadi elemen penting dari skuat PSM Makassar. Kelihaiannya membawa bola, serta umpan terukurnya yang memanjakan para penyerang membuatnya posisinya di lini tengah Juku Eja tak tergantikan. Bola Nusantara coba mengupas sepak terjang Pluim selama di PSM.

Pluim didatangkan PSM ketika mengikuti kompetisi non resmi Indonesia Soccer Championship A (ISC) A, pada 2016 lalu. Ia langsung menampilkan performa impresif, walau baru gabung.

Apresiasi tinggi patut disematkan untuk Pluim. Lantaran, PSM merupakan klub Indonesia pertama yang dibelanya setelah malang melintang bersama kesebelasan Belanda seperti Vitesse, Roda JC, dan Willem II.

Sebelum, berseragam PSM, Pluim lebih dulu bermain dengan klub Vietnam Binh Duong. Di sanalah, sosok kelahiran 4 Januari 1989 ini, mulai mengerti karakter permainan dan suhu yang ada di Asia Tenggara.

Maka tak heran, ketika dikontrak PSM, Pluim langsung bisa padu dengan rekan-rekan setimnya. Ia menjadi idola baru di klub asal Makassar tersebut karena permainannya yang gemilang dan ditunjang wajah rupawan.

“Tapi dibandingkan Vietnam, sepak bola Indonesia sedikit lebih terorganisir. Masyarakat di sini juga jauh lebih ramah dan terbuka kepada orang asing,” ucap Pluim ketika pertama kali datang ke Indonesia.

Kisah Pilu Pluim

Perjalanan karier Pluim di dunia sepak bola bukan tanpa rintangan. Ia harus jatuh-bangun untuk menjadi pemain sukses seperti sekarang ini.

Pluim sempat menjadi sorotan sejumlah media Belanda pada 2010 lalu, setelah diincar pelatih legendaris Leo Beenhakker. Saat itu ia mendapatkan tawaran memperkuat klub raksasa Feyenoord.

Tapiya, Pluim menolak tawaran yang diberikan Beenhakker dan lebih memilih tetap di Vitesse. Ia tak mau mengkhianati kesebelasan yang telah membesarkan namanya dan berusaha menembus tim utama.

Keputusan Pluim tetap berseragam Vitesse nyatanya tidak tepat. Karena selama tiga tahun, ia hanya tampil sebanyak 36 kali dan mencetak lima gol, sehingga dipinjamkan ke klub Roda JC.

Klub asal kota Kerkrade yang juga berkiprah di Eredivisie ini akhirnya menawarinya kontrak permanen. Namun, empat tahun di klub tersebut tak juga mendongkrak kariernya sehingga Pluim pun pulang kampung untuk membela PEC Zwolle, klub kota kelahirannya.

Daya magis yang dipunyai Pluim kembali datang bersama Zwolle. Selama satu musim ia tampil sebanyak 34 laga dan menjadi salah aktor penting yang membuat klub tersebut terhindar dari degradasi.

Penampilan ciamik yang diperlihatkan Pluim membuat Willem II Tilburg kepincut. Sayang, keputusannya berlabuh ke klub tersebut menjadi kesalahan besar karena kontraknya diputus secara tiba-tiba.

Setelah itu, Pluim mencoba peruntungan keluar dari Belanda. Ia mengikuti seleksi bersama salah satu klub Superliga Denmark, Sonderjyske Fodbold, yang akhirnya tidak lolos.

Di saat harapannya hancur dengan tim yang ada di Eropa, datanglah tawaran dari klub Vietnam Binh Duong. Namun, nasib sial kembali datang, karena kotrak Pluim diputus secara sepihak.

Binh Duong, tak mau melanjutkan kerja samanya dengan Pluim secara tiba-tiba. Padahal, ketika itu, Pluim baru saja keluar dari rumah sakit setelah dirawat karena penyakit infeksi usus yang dideritanya.

Untungnya, Robert Postma dari Top Sport Management, agen pemain tempatnya bernaung, membawa kabar Pluim mendapat tawaran dari klub Indonesia. Dari situlah Pluim menjadi pemain PSM.

“Saya ingin bermain di sini (Indonesia) selama bertahun-tahun kalau memungkinkan,” ujar Pluim waktu menerima tawaran dari PSM.

Penampilan Pluim di Liga 1

Gelandang serang berusia 29 tahun tersebut hampir saja membawa PSM menjadi juara Liga 1 musim lalu. Sayang, performa gemilang yang ditampilkan Juku Eja pada awal musim tak bertahan hingga akhir.

PSM harus merelakan gelar Liga 1 ke Persija Jakarta. Kini performa Pluim pun sama sekali tak mengalami penurunan.

shares